Loading...

Senin, 02 November 2009

Masalah Pembangunan Ekonomi Kota Jakarta

MASALAH PEMBANGUNAN EKONOMI
KOTA JAKARTA

Latar Belakang Kota Jakarta
Kota Jakarta sekarang merupakan daerah khusus Ibukota Negara Indonesia, yang terdiri atas lima wilayah kotamadya, yaitu Jakarta timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Setiap wilayah ini mempunyai batas pemisah, tetapi sekarang sudah tidak tampak jelas lagi, karena wilayah-wilayah tersebut banyak yang berhubungan dengan bangunan-bangunan yang sering bermunculan, dan di karenakan adanya perubahan tata Kota Jakarta.
Lebih dari empat abad lamanya arus pendatang Jakarta terus mengalir, bahkan sampai sekarang pun tampak semakin deras. Pada awal pertumbuhannya, Kota Jakarta dihuni oleh masyarakat dari Sunda, Jawa, Melayu, Maluku, dan beberapa suku lainnya, antara lain dari suku Bangsa Cina, Portugis, Belanda, Arab, dan India. Mereka masuk bersama-sama dengan beragam-ragam adat tradisi dari setiap suku atau bangsa tersebut. Kota Jakarta sekarang telah berusia 482 tahun, tetapi masih mengalami berbagai macam masalah, terutama menyangkut infrastruktur masyarakat yang setiap tahun jumlahnya makin meningkat, akibat dari itu masalah-masalah di Kota Jakarta makin meningkat,antara lain dari masalah Banjir, Kemacetan Lalu-lintas, Air bersih, sampah yang sering berkeliaran dan Lapangan Pekerjaan, ini semua disebabkan karena kurangnya kerja sama antara Pemerintah dengan masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan di Kota Jakarta.
Kembali ke masalah banjir, kenapa setiap tahun masalah banjir yang terjadi di Kota Jakarta bukannya menurun, tetapi malah cenderung meluas?. Masalah ini tentu terkait dengan berkurangnya daerah resapan air dan rusaknya kawasan hulu. Banyak hal yang dapat dicatat mengenai perkembangan terhadap Kota Jakarta. Sejak masa penjajahan dengan jumlah penduduk yang masih berjumlah ratusan ribu hingga sekarang sekitar 10 juta penduduk, hal ini dikarenakan Kota Jakarta masih menjadi dambaan para pencari kerja dari berbagai daerah.
Gemerlapnya Ibukota Jakarta mempunyai beragam fungsi, baik sebagai Ibukota Perdagangan, Kota Pariwisata, Pusat Keramaian dan Hiburan,.serta sebagai Kota Internasional yang menjadi daya tarik tersendiri. Kota Jakarta mempunyai luas sekitar 640 Km persegi dan berguna bagi masyarakat yang berasal dari pelosok persada untuk mencari nafkah dan bagi masyarakat baru yang mempunyai masalah pelik yang harus segera diatasi oleh Pemerintah Propinsi DKI.
Pengertian dan Masalah Pembangunan Kota Jakarta
Kita juga enggan belajar dari sejarah tata kota Batavia yang sudah menyusun Master Plan dengan sistem analisa, serta arah pembangunan yang “bersahabat” dengan air. Kota Jakarta dilanda bencana banjir adalah cerita lama yang selalu baru. Apa penyebab bencana banjir juga selalu dijawab dengan nada lama yaitu kekurangan biaya atau masyarakat kota yang sering membuang sampah sembarangan, penyempitan alur sungai, urbanisasi, banjir kiriman dan seterusnya. Bencana banjir di Kota Jakarta disebabkan kombinasi dari beberapa faktor yang titik beratnya terletak pada pihak eksekutif yang kurang tegas dan tanpa perhitungan. Daerah Kota Jakarta yang relatif lebih rendah dari daerah Kuningan tidak mengalami genangan hebat jika dibandingkan dengan daerah Setia Budi yang airnya bertahan sampai 5 hari.
Di koran, Jakarta terbaca keterangan dari Badan Metereologi dan Geofisika, bahwa banjir bulan januari tahun 1977 merupakan banjir terbesar sejak tahun 1892, tetapi bukan merupakan curah hujan yang terbesar selama ini. Kalau demikian, kenapa banjirnya terbesar sedangkan curah hujannya kecil ? Apa karena berbeda dengan keadaan sebelumnya, bencana banjir kali ini tidak begitu dipengaruhi oleh bencana banjir kiriman dari sekeliling Jakarta. Secara logis dapat disebut bahwa bencana banjir di Jakarta, akibat dari sejumlah air yang tidak dapat di tampung oleh got dan saluran lantas malah meluber.
Setelah masalah banjir, sekarang kami akan menguraikan tentang masalah Kemacetan Lalu Lintas yang terjadi di Kota Jakarta. Masalah ini tampaknya kecil, namun berisiko buruk, seperti terganggunya sejumlah Traffic Light di berbagai simpul jalan yang padat, sehingga menciptakan kemacetan panjang. Petugas Pusat Manajemen Lalu Lintas awal juli mengungkapkan dalam waktu sebulan 50 lampu lalu lintas di Ibukota rusak dengan berbagai macam sebab. Bisa dibayangkan ancaman kemacetan akan menjadi kronis dan berlanjut, karena simpul-simpul Traffic Light Jakarta sering terganggu dan belum ada isyarat diperbaiki atau diganti dengan yang baru. Media massa terbitan Jakarta pernah memberitakan kemacetan di akibatkan oleh gangguan lampu lalu lintas yang terjadi di beberapa wilayah Ibukota.
Masalah selanjutnya yaitu tentang “ Aksi Kriminal / Kejahatan”. Di Kota Jakarta banyak masyarakat yang nekad melakukannya, sehingga Polda Metro Jaya sampai melakukan Operasi penindakan Kriminalisme dengan sasaran utama, antara lain lokasi kumuh di bawah jembatan, sekitar stasiun Kereta Api, Terminal Bus / Angkutan umum, seputar pusat pembelanjaan dan lokasi hiburan di wilayah JaBoDeTaBek. Pimpinan Polda Metro Jaya mengatakan, target penyelesaian aksi kriminalisme dikhawatirkan menjadi sarang kejahatan, jika pemberntasannya tidak dituntaskan sampai ke akar-akarnya. Kapolda dalam berbagai kesempatan terus menyemangati anggotanya terutama Kapolres, agar jangan segan memberantasnya, soalnya aksi meresahkan itu menjadi tindak kejahatan, sehingga diharapkan penyelesaiannya tidak setengah-setengah.
Selain itu ada masalah yang sering terjadi di malam hari, yaitu masalah tentang “Kehidupan di Dunia Malam”. Ini adalah masalah yang paling cepat ditasi bagi setiap orang tua yang mempunyai anak masih remaja, terutama bagi kaun wanita. Saat tengah malam telah berlalu , jarum jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Suara musik mengentak-entak, mengalunkan nada-nada House Musik hampir tak satu pun pengunjung yang berdiam diri. Ada yang menggandeng pasangannya, berpelukaan sambil bergoyang-goyang mengikuti irama musik di bawah gemerlap lampu warna-warni. Sudut ruangan yang agak remang, bahkan bisa dikatakan gelap dan berkabut, asap rokok berbagai merek mengepul, sejulmlah pasangan cowok-cewek terlihat asik bermesraan.
Mereka berpelukan, berciuman, saling merengkuh dan tak peduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Itukah situasi dan kondisi di sebuah diskotek . Pemandangan seperti ini mungkin sudah menjadi klasik bagi orang yang berkeliaran di diskotek yang bertebaran di sejumlah kawasan Ibukota Jakrta terutama pada malam hari akhir pekan. Diskotek hanya satu dari sekian banyak wahana mencari dan mengumbar kesenangan. Masih banyak tempat dan bentuk hioburan malam, yang bisa dinikmati di Kota Jakarta, mulai dari kafe, tempat karokean, hingga panti pijat. Kemajuan pembangunan Kota Jakarta secara langsung maupun tidak langsung berimbas pada pesatnya, pertumbuhan dunia hiburan malam.
Denyut kehidupan malam semakin marak dan variatif, tak hanya itu kalau dulu denyut nadi kehidupan malam hanya ada di seputar kawasan Kota.Maka dari itu banyak hiburan malam yang pelanyanannya bervariasi dan membuat masyarakat simpati, khusus pada kaum muda, ABG dan para kalangan patriat serta kaum muda yang tinggal di kawasan wilayah yang banyak hiburan malam. Sementara, untuk remaja perempuan dan laki-laki, dari keempat masalah yang kami uraikan tersebut masih ada stu masalah lagi yang ingin kami uraikan, yaitu masalah tentang “Urbanisasi dan Kemiskinan yang terjadi di Kota Jakarta” Ada pernyataan menarik yang menyebutkan, setengah dari 10 juta penduduk Jakarta tergolong miskin atau ekonominya rendah. Sebernarnya yang dimaksud adalah 30% sampai 40% dari dari 650 km wilayah Kota Jakarta termasuk wilayah kumuh. Pemukiman kumuh yang identik dengan kemiskinan, sebagian berada di wilayah Jakarta Utara. Di antara kantong-kantong kumuh seperti di Jakarta Utara dan di Jakarta Barat dan umumnya di kawasan pantai atau pantura Jakarta Raya. Jakarta termasuk metropolis ASIA yang mengusung kemiskinan terbesar di ASIA , setelah Tri Bono, Bob Gedolfdan Jeffrey Sachs yang memperjuangkan penghapuasan kemiskinan di Afrika .
Kemiskinan Asia, Khususnya Kota Jakarta pernah diajukan dalam pertemuan APEC-ASIA Pacific Economic Cooperation di Busan untuk menjadi agenda pembicaraan utama. Tuan rumah Presiden Korsel Roh Moo Hyun sendiri yang berinisiatif mengajukan ppemberantasan kemiskinan sebagai agenda utama APEC 2005. Inilah penyebab mengapa angka pertumbuhan penduduk begitu tinggi, sementara fasilitas pemukiman dan penyediaan lapangan kerja tidak berimbang atau terbatas, dibandingkan dengan jumlah pencari kerja. Kalangan miskin di Ibukota adalah besar karena terjadinya tindakan polisional, yakni Tramtib menggusur, mengusir dan mengosongkan lahan-lahan tersebut, padahal seharusnya sejak awal pemerintah bertindak tegas ketika terjadi penyerobotan.